Saturday, September 1, 2012

Share: Kompetensi Pemimpin Visioner

Oleh : Rojikin, Ketua Bidang Kaderisasi DPC PKS Banguntapan http://www.pksbanguntapan.com/2012/08/kompetensi-pemimpin-visioner.html

 Dakwah memerlukan pandangan yang luas dan jauh ke depan. Perubahan lingkungan strategis, baik di dalam maupun luar negeri, selalu memiliki implikasi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dakwah. Oleh karena itu dakwah harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi yang terus berkembang, tantangan yang terus berubah sesuai perkembangan zaman. Untuk itulah, organisasi dakwah harus memiliki visi yang jelas, dan diperkuat dengan hadirnya para pemimpin visioner. Organisasi dakwah tidak boleh jumud dan terbelakang karena tidak memiliki visi, serta memiliki pemimpin yang tidak memiliki visi yang kuat. Kehadiran pemimpin visioner dalam organisasi dakwah, akan mampu membawa dakwah selalu eksis di tengah pergumulan persoalan lokal, nasional maupun internasional. Istilah pemimpin visioner (visionary leaders) sudah banyak dikemukakan oleh para pakar leadership. Menurut Corinne McLaughlin (2001), pemimpin visioner adalah mereka yang mampu membangun ‘fajar baru’ (a new dawn); bekerja dengan intuisi dan imajinasi, penghayatan, dan boldness. Mereka menghadirkan tantangan sebagai upaya memberikan yang terbaik untuk organisasi dan menjadikannya sebagai sesuatu yang menggugah untuk mencapai tujuan organisasi. Para pemimpin visioner bekerja dengan kekuatan penuh dan tercerahkan dengan tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Pandangannya jauh ke depan, melewati batas-batas pandangan masyarakat pada umumnya. Mereka adalah para social innovator, agen perubah, memandang sesuatu dengan utuh (big picture) dan selalu berfikir strategis. Sepuluh Kompetensi Ada berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh para pemimpin visioner. Menurut Barbara Brown, paling tidak diperlukan 10 (sepuluh) kompetensi untuk menjadi pemimpin visioner. 1. Visualizing. Pemimpin visioner harus mempunyai visi atau gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan kapan hal itu akan dapat dicapai. Organisasi dakwah harus dibangun dengan gambaran-gambaran kondisi ideal yang diinginkan, dan kapan waktu yang ditetrapkan untuk mencapainya. 2. Futuristic Thinking. Pemimpin visioner berpikir jauh ke depan. Ia tidak hanya mengetahui posisi organisasi pada saat ini, tetapi lebih memikirkan posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang. Organisasi dakwah harus memiliki posisioning yang jelas pada masa yang akan datang, bukan sekedear lima tahunan, tetapi bisa mencapai waktu tiga puluh tahun, lima puluh tahun bahkan lebih. 3. Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, manajeman organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana. 4. Proactive Planning. Pemimpin visioner harus menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Ia mampu mengantisipasi rintangan potensial dan bahkan mampu mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu. 5. Creative Thinking. Dalam menghadapi semua tantangan, pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan mencurahkan segenap kemampuan untuk menghadirkan berbagai kreasi untuk membangun kemanuan organisasi. 6. Taking Risks. Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran. Organisasi dakwah akan selalu berhadapan dengan tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Pemimpin visioner mampu membuat kalkulasi ketika harus mengambilo keputusan yang berdampak kepada resiko yang akan ditanggung organisasi. 7. Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap bagian, pada keseluruhan tatanan organisasi. Keserasian kerja seluruh bagian adalah syarat penting keberhasilan organisasi dakwah. 8. Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasaran dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai individu, instansi dan kelompok. Organisasi dakwah tidak bisa mencapai tujuannya sendirian, namun harus berkolaborasi dan bekerja bersama dalam bingkai kebhinnekaan. 9. Continuous Learning. Pemimpin visioner terus menerus belajar, tidak pernah berhenti menambah ilmu pengetahuan, dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pendidikan lainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi yang berkembang. 10. Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut. Demikianlah sepuluh kompetensi yang diperlukan untuk menjadi pemimpin visioner. Kepemimpinan yang sangat diperlukan untuk mengembangkan organisasi, perusahaan, lembaga pemerintahan, maupun negara.

Friday, September 30, 2011

3M Dalam Tarbiyah

Sekurang-kurangnya perlu ada 3M dalam tarbiyah.

1. Murobbi – perlu ada orang yang bawa, yang tetap, bukan tukar-tukar. Sekejap orang ni, pastu orang tu, kemudian orang lain. Tu tak kira murobbi. Murobbi kenal dengan dekat orang yang dibawanya dan memahami apa yang perlu dilaksanakan bagi meningkatkan kualiti orang yang dibawa supaya menjadi Murabbi yang lebih hebat.

2. Mad’u – Orang yang dibawa. Pun kena tetap, kalau tak, macam mana nak laksana tarbiyah. Minggu ni jumpa orang ni, minggu depan jumpa orang nun, yang minggu lepas dah tak tahu macam mana. Tu mad’u jugak, Cuma tak boleh berkembang kalau cara begitu.

3. Manhaj. Manhaj bukan sekadar ada tajuk, atau ada bahan nak cerita bila berusrah. Tapi murobbi memahami tahap mad’u, ke mana nak dibawa, apa bahan yang perlu diberikan, kaedah macam mana yang paling sesuai dan perkara-perkara yang perlu dilakukan secara jama’I bagi meningkatkan kefahaman, ukhuwwah, tsaqafah dan tsiqah.

Kalau kurang salah satu, rasanya kurang sesuai dipanggil proses tarbiyah atau claim ‘saya telah berada dalam proses tarbiyah’.
Kalau kurang salah satu, kira sekadar tazkirah dan perjumpaan biasa, bukannya halaqah atau proses tarbiyah.
Wallahua’lam.

Tuesday, August 17, 2010

صالح لنفسه, مصلح لغيره

Individu yang ingin dibentuk adalah individu yang bukan sahaja baik dan soleh untuk dirinya, tetapi juga yang boleh membrikan kesan kepada orang lain atau masyarakat sekitarnya.

Ramai antara kita yang memiliki akhlak yang baik, terjaga solatnya,istiqamah tilawahnya, rajin dengan zikir tetapi hanya untuk dirinya sahaja. Dengan segala kebaiakn yang ada pada diri, individu masih lagi rasa segan dan malu untuk membuka mulut, bercerita dan mengajak orang lain membuat kebaikan. Ada juga yang malas mengalirkan peluh dan mengeluarkan tenaga untuk merancang,bekerja dan bertindak untuk memberikan kesan yang baik kepada masyarakat di sekitarnya.

Fardi muslim yang ingin dibentuk adalah yang bukan sahaja soleh, tapi mampu memberikan kebaikan kepada masyarakat sekeliling.Individu soleh yang menyinsing lengan memerah keringat berfikir dan bekerja untuk melakukan proses islah di dalam masyarakat.

Ingat, peranan orang yang beriman, bukan sekadar untuk menjadi hamba Allah, tetapi juga sebagai Khalifah di muka bumi ini. Menegakkan Islam dan mentadbir dunia dengan keindahan Islam.

Friday, August 6, 2010

Kegagalan Orang Mukmin

Kegagalan bagi orang mukmin adalah apabila dia gagal untuk menjadi mukmin yang sebenar, gagal mencapai darjat taqwa, gagal mematuhi arahan Allah dan Rasul dan gagal menahan diri dari laranganNya.

Selain daripada itu, ketidakberhasilan dan permasalahan yang datang adalah ujian dari Allah Subhanahu Wata'ala. Untuk menguji manusia yang beriman dalam merealisasikan dua keajaiban mukmin; sabar apabila menghadapi kesusahan, dan syukur apabila mendapat kesenangan.

'Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-hadits/makna-sabar.htm

Oleh itu, jangan keluh kesah apabila menghadapi masalah dan kesusahan; yang penting sentiasa berada dalam keadaan beriman yang sepenuhnya kepada Allah dan tidak gagal dalam menunaikan segala tanggungjawab kepadaNya.

"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Surah Yusof; ayat 87

Wallahua'lam.

Sunday, July 25, 2010

Perkara Utama Menyelesaikan Masalah: Kenalpasti Masalah


Kaedah yang paling tepat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, sama ada masalah individu, keluarga atau organisasi adalah mengenalpasti apakah masalah yang sebenar.

Kebanyakan masalah yang tidak dapt diselesaikan adalah berpunca kepada kegagalan untuk mengenalpasti masalah yang sebenar. Gagalnya mengenalpasti masalah sebenar akan membawa kepada jalan penyelesaian yang tidak tepat. Seorang doktor yang gagal mendiagnosis penyakit dengan tepat akan memberikan ubat yang tidak sesuai dengan penyakit yang sebenar.

Kadang-kadang, kita hanya melihat kepada simptom kepada penyakit, bukannya penyakit tersebut. Orang yang demam, kalau diperiksa secara luaran sahaja, jalan penyenyelesaian yang paling mudah adalah meletakkan 'cool pad' di kepala. Tetapi, mungkin sebenarnya dia demam disebabkan oleh bisul yang besar di kakinya dan penuh dengan nanah.

Justeru, mengenalpasti masalah yang sebenar merupakan proses yang paling penting dan perlu didahulukan dalam menyelesaikan masalah.

Dalam menyelesaikan masalah, kita akan bertemu dengan gejala 'escapisme'. Disebabkan tidak mahu atau malu mengakui masalah yang dihadapi, individu atau organisasi memberikan banyak alasan lain dan cuba menyembunyikan masalah yang sebenar.

Individu, kadang-kadang mengatakan saya menghadapi masalah ini, ini dan ini, tetapi semuanya bukan permasalahan yang sebenar. Macam anak kecil yang tidak hendak ke sekolah, alasannya sakit perut, pening kepala, bosan kerana asyik belajar benda yang sama dan lain-lain, tapi mungkin masalah sebenar adalah gagal menyiapkan kerja sekolah atau ada masalah dengan guru.

Kepada individu yang ingin menyelesaikan masalah, pastikan dahulu punca atau permasalahan sebenar, barulah fikirkan jalan penyelesaian.

Kepada yang pening dengan pelbagai masalah, sila ambil wuduk, solat dua rakaat, ambil pen dan kertas, sila catatkan apa sahaja yang terlintas di fikiran anda yang dirasakan mengganggu dan menyerabutkan kehidupan dan pemikiran. Kemudian, senaraikan semula mengikut jenis atau kesamaan, dan kategorikan yang boleh diselesaikan segera, yang memerlukan masa dan yang memerlukan bantuan orang lain. Dalam masa yang sama, potong sahaja mana yang bertindan dan yang bukannya masalah.

Insyaallah, anda akan dapati, separuh daripada masalah anda telah diselesaikan sebaik sahaja habis melakukan perkara di atas.

Kepada Allah kita berdoa agar dipermudahkan dalam segala masalah yang dihadapi.

Friday, July 23, 2010

Marketing, Employment, Business Expansion

Beberapa step untuk mengembangkan organisasi.

1. Marketing
- memperkenalkan organisasi kepada masyarakat
- Menjelaskan misi / visi
-Menarik minat orang turut serta

2.Employment
- Yang telah berminat dengan organisasi, kena ajak masuk dan mengikuti latihan yang telah ditetapkan supaya menjadi pekerja yang baik, taat, berkebolehan dan sanggup memikul tugasan.
- Pekerja kena juga dilatih untuk memberikan keuntungan kepada oranisasi.
- Kalau tak boleh jadi macam tu, buang je, ambil pekerja lain.

3. Business Expansion
- Bila tenaga pekerja dah ok, boleh start fikir untuk kembangkan business, supaya bukan sekadar jaguh kampung, kena world class!

Peringatan,jangan sibuk sangat dengan hal Marketing sampai lupa kepada employment dan Business Expansion. Ramai orang suka buat marketing, jual air liur bak kata penceramah terkenal, tapi bila nak suruh buat latihan, kerja, pengorbanan, ikut sistem, tak ramai yang sanggup.

Wallahua'lam.

p/s - paham ke ni.... ?

Tuesday, July 20, 2010

Semangat Pemuda, Kebijaksanaan Kaum Tua (Copy n Paste)

Banyak yang tahu sejarah Umar bin Khatab dan Khalid bin Walid. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Khalid bin Walid pernah membanting Umar bin Khatab dalam gulat hingga kakinya cedera.

Kita mungkin terkejut karena dalam persepsi kita Umar bin Khatab lebih kuat daripada Khalid bin Walid. Persepsi itu tidak salah. Lalu bagaimana Khalid bin Walid mengalahkan Umar bin Khatab? Itu terjadi saat mereka masih remaja. 10 tahunan. Usia Khalid bin Walid dan Umar bin Khatab memang tidak terpaut jauh. Selain masih ada ikatan keluarga, mereka kawan sepermainan. Dan cara bermain remaja Arab kala itu tidak sama dengan permainan anak-anak kita. Sejak kecil mereka telah belajar menjadi lelaki! Kekuatan fisik dan keahlian perang yang ketika itu menjadi top life skill juga mewujud dalam permainan mereka. Salah satunya adalah gulat itu. Nah, saat Khalid berhasil membanting Umar, Khalid sendiri kemudian ketakutan. Sebab kaki Umar cedera berhari-hari. Untungnya cedera itu bisa sembuh.

Apa hubungannya dengan semangat pemuda kebijaksanaan kaum tua (حماسة الشباب وحكمة الشيوخ) ? Ternyata latihan sejak kecil itu menjadikan para pemuda memiliki semangat (hamasah) yang luar biasa. Hamasah ini ada pada Khalid. Hamasah ini ada pada Umar. Dan hamasah para pemuda adalah satu diantara dua kunci kesuksesan sebuah gerakan (harakah).

Hamasah yang menggelora ini melahirkan keberanian dan melipatgandakan kekuatan. Sebab kekuatan tanpa keberanian akan selamanya bersembunyi dalam diam. Kekuatan tanpa keberanian juga membuat gerakan menjadi lamban, dan tiba-tiba momentum berlalu tak termanfaatkan. Hamasah pemuda yang melahirkan keberanian dan melipatgandakan kekuatan tertoreh mulia dalam perang Badar. Ali bin Abu Thalib yang saat itu masih berusia 25 tahun menjadi bintang lapangan. Ia berhasil membunuh 18 orang musuh, dari total 70 pasukan kafir Quraisy yang terbunuh. Muhammad Al-Fatih yang berhasil memimpin pasukan memfutuhkan Konstantinopel juga masih sangat muda. Sekitar 23 tahun.

Lalu hamasah yang melahirkan akselerasi gerakan atau mendorong keputusan cepat -just in time- bisa kita lihat pada tahun 1945. Atas desakan para pemudalah jika akhirnya kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus tahun itu. Dan atas desakan pemuda-pemuda Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan Al-Banna lah jika kemudian Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Setelah itu mengalirlah pengakuan dari berbagai negara di dunia.

Pemuda harus memiliki hamasah. Dan dengan hamasah para pemuda, harakah menjadi lebih berani dan lebih akseleratif. Namun harakah juga memerukan kunci kedua. Ibarat sebuah perjalanan, harakah tidak hanya melalui jalan lurus bebas hambatan yang menghajatkan kecepatan dan keberanian an sich. Jalan ini justru seringkali bertemu dengan tikungan, hambatan, dan persimpangan. Menghadapi tikungan kita memerlukan rem untuk mengontrol kecepatan agar tidak menikung terlalu lebar dan keluar jalan atau bahkan masuk jurang. Ketika ada hambatan perlu kehati-hatian agar tidak menabrak atau ditabrak. Ketika di depan ada persimpangan perlu kebijaksanaan mengambil jalan yang mana agar sesuai dengan tujuan. Tiga peran ini membutuhkan hikmatusy syuyukh, kebijaksanaan kaum tua.

Kaidah حماسة الشباب وحكمة الشيوخ ini bukan berarti membatasi bahwa pemuda itu tidak bijaksana atau kaum tua tidak semangat. Terlalu banyak contoh orang-orang yang memiliki keduanya. Pemuda yang memiliki hamasah dsekaligus hikmah misalnya Ali bin Abu Thalib. Julukan "gudang ilmu" yang diperolehnya menunjukkan betapa bijaksananya pemuda pemberani ini. Sedangkan Rasulullah di masa tua, beliau tetap memiliki hamasah yang luar biasa di samping kebijaksanaannya yang tiada tara.

Yang menjadi persoalan adalah jika hilang dua-duanya dari dalam diri kita. Hamasah tidak ada, hikmah juga tidak ada. Kita khawatir telah ada indikasi itu dalam sebagian organ kita. Jika Anda mengetahui sekelompok pemuda yang produktifitas amalnya belum kelihatan seringkali saat mengundang Ustadz-ustadz sepuh meminta taujih. Ketika ustadz bertanya: "Tema taujihnya apa akhi?", dijawab: "Yang penting taujih yang membuat kita semangat Ustadz!". Jika indikasi ini benar bahwa pemuda telah kehilangan hamasah, lalu apa yang tersisa?

Sumber : http://muslimkuonline.blogspot.com/